Skip to main content

untuk kamu


Untuk kamu, dimanapun kamu, karena aku rindu kamu..

Hari ini, aku mau cerita tentang kamu. Kamu yang sudah sangat lama kukenal. Sejak aku dan kamu , masih sama sama ingusan dulu, masih main bola di lapangan yang becek, sampai lari larian di tengah banyak orang. 

Kamu, yang selalu bersamaku, saat tertawa karena ada teman yang terjatuh, saat terharu karena memenangkan lomba, saat menangis karena nilai ulanganku yang buruk, dan saat aku yang ditertawakan karena aku terjatuh. Kamu, yang selalu ada disisiku, saat rok merahku berganti rok biru.

Aku dan kamu masih bersama, saat malas berubah rajin, saat rajin berubah malas, saat putih berubah hitam, saat hitam berubah putih, saat rambutmu masih pendek, sampai rambutmu menjadi panjang, saat rambutku masih terlihat, sampai rambutku tak nampak lagi. Kita masih saja bersama.

Aku dan kamu masih bersama, saat celana pendek berganti celana panjang. Saat upacara di pagi hari, saat berlari di siang hari, saat tertawa di sore hari, dan saat melintasi jalan di malam hari. kamu yang masih ada bersamaku. Kamu yang masih ada saat kakiku letih dan sakit, saat dinginnya udara menggigit, dan saat matahari bahkan sedang enggan terbit.
Iya, itu kamu.

Kamu, yang mungkin tak pernah benar benar menganggap keberadaan ‘aku dan kamu’.  
Tapi, sejauh apapun kamu, aku akan selalu menjaga keberadaan ‘aku dan kamu’.

Comments

Popular posts from this blog

Aku cinta padamu, Indonesia

Indonesia, sebuah negeri dengan segala keelokan dan pesona. Negeri di tenggara Asia   yang patut dipertanyakan: seberapa besar cinta rakyatnya kepadanya? Aku mungkin hanyalah seorang biasa, tapi aku akan mencoba menggambarkan seberapa besar cintaku kepada negeri ini melalui rangkaian kata sederhana ini. Atau mungkin, aku akan mencoba membuat kalian tahu bagaimana caraku mencintai negeri ini, mencintai baik dan buruknya. Aku terlahir di negeri ini. Aku tumbuh dan menghirup udara di negeri ini, begitu juga sekitar dua ratus juta penduduk Indonesia yang lain. Ketika aku lahir, Indonesia masih dipimpin seorang “Bapak Pembangunan” yang katanya memberikan banyak perubahan dan kemajuan, tapi juga banyak meninggalkan hutang bagi Indonesia. Tapi aku tak peduli, aku mulai merasakan cinta pada negeri ini mulai tumbuh sejak hari pertama aku melihat dunia. Inilah negeriku, tempat hidungku menghirup udara pertamanya atau tempat tangisku pertama kali pecah. Dan aku mencintainya, dengan te...

Rindu

Ada yang tergerus pada yang dibilang hati, menelungkup sanubari, kelu. terbawa angin sendu, terhanyut hujan, biru. berpeluk pada satu ingatan, haru. jatuh dalam bayang kala itu. metamorfosa tak selamanya berlaku. beginikah rasanya jika temu, hanya berujung rindu? Tasikmalaya, 20-12-2015  Aisyah.