Skip to main content

sebuah keseimbangan

malam ini luar biasa sekali bung,
banyak hal yang terjadi di sabtu ini.
malam ini puncaknya,
ketika semua rasa kantuk harus dikalahkan untuk tetap duduk dan membicarakan idealisme
atau ketika rasa lapar menjadi tertunda untuk dituntaskan karena tuntutan tanggungjawab yang menggebu.
seru, dan candu

semua keletihan mereka tersirat jelas di wajah,
kantung mata juga sudah tidak bisa berbohong lagi,
tulang yang tak mampu menopang pun mengeluh,
tapi bagaimanapun kami harus kokoh.

ketika itu pula tugas yang lain mengejar.
begitu pula dengan saya.
ketika semua orang terlelap, saya masih harus mengerjakan matlab
sekaligus menjaga barang barang yang terhampar sekenanya
menarik,
penuh keseimbangan
yang meskipun tidak benar benar seimbang
tapi hari ini saya merasa hidup saya sangat seimbang.

saya yakin bisa melalui masa masa ini,
begitu pula mereka
kami hanya perlu berusaha dan menjaga keseimbangan.


Comments

Popular posts from this blog

Aku cinta padamu, Indonesia

Indonesia, sebuah negeri dengan segala keelokan dan pesona. Negeri di tenggara Asia   yang patut dipertanyakan: seberapa besar cinta rakyatnya kepadanya? Aku mungkin hanyalah seorang biasa, tapi aku akan mencoba menggambarkan seberapa besar cintaku kepada negeri ini melalui rangkaian kata sederhana ini. Atau mungkin, aku akan mencoba membuat kalian tahu bagaimana caraku mencintai negeri ini, mencintai baik dan buruknya. Aku terlahir di negeri ini. Aku tumbuh dan menghirup udara di negeri ini, begitu juga sekitar dua ratus juta penduduk Indonesia yang lain. Ketika aku lahir, Indonesia masih dipimpin seorang “Bapak Pembangunan” yang katanya memberikan banyak perubahan dan kemajuan, tapi juga banyak meninggalkan hutang bagi Indonesia. Tapi aku tak peduli, aku mulai merasakan cinta pada negeri ini mulai tumbuh sejak hari pertama aku melihat dunia. Inilah negeriku, tempat hidungku menghirup udara pertamanya atau tempat tangisku pertama kali pecah. Dan aku mencintainya, dengan te...

Rindu

Ada yang tergerus pada yang dibilang hati, menelungkup sanubari, kelu. terbawa angin sendu, terhanyut hujan, biru. berpeluk pada satu ingatan, haru. jatuh dalam bayang kala itu. metamorfosa tak selamanya berlaku. beginikah rasanya jika temu, hanya berujung rindu? Tasikmalaya, 20-12-2015  Aisyah.