Skip to main content

Tanggung Jawab

Menemukan titik jenuh dalam mengerjakan sesuatu adalah hal biasa. Yang tidak biasa adalah berusaha keluar dari titik jenuh tersebut dengan cara yang tidak biasa.

Saya kini berada di atas ambang sulit berpikir. Karena terlalu banyak tugas, tanggungjawab, dan beban kuliah yang sedang ditanggung. pendirian dan idealisme saya memang biasa saja, tidak sekuat itu. namun saya akan teguh disana. pada jalur yang saya berdiri. bisa saja, saya lupa pada fungsi saya. pada semua tanggungjawab saya.

saya tidak mau berhenti. sungguh tidak mau berhenti. tapi apa daya, kadang sulit untuk memaksakan semua ini berjalan seperti yang diinginkan.
tapi lari dari masalah adalah hal paling memalukan dalam sejarah kehidupan manusia, itu sama saja dengan bunuh diri. dan itu dosa.

hari ini , tapi motivasi itu kembali, kembali lagi.

saya mau semuanya kembali. idealisme, harapan, dan semua kerja keras harus dimulai lagi.

sungguh, saya tidak mau berhenti. karena setidaknya, saya tidak mau dosa.

dan Soe Hok Gie pernah menulis di catatan hariannya :

Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas di segala arus-arus masyarakat yang kacau. Seharusnya mereka bisa berpikir tenang karena predikat kesarjanaan itu. Tetapi mereka tidak bisa terlepas dari fungsi sosialnya ialah bertindak demi tanggung jawab sosialnya bila keadaan telah mendesak. Kelompok intelektual yang terus berdiam dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaannya. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.
(31 Desember 1962)

Comments

Popular posts from this blog

Aku cinta padamu, Indonesia

Indonesia, sebuah negeri dengan segala keelokan dan pesona. Negeri di tenggara Asia   yang patut dipertanyakan: seberapa besar cinta rakyatnya kepadanya? Aku mungkin hanyalah seorang biasa, tapi aku akan mencoba menggambarkan seberapa besar cintaku kepada negeri ini melalui rangkaian kata sederhana ini. Atau mungkin, aku akan mencoba membuat kalian tahu bagaimana caraku mencintai negeri ini, mencintai baik dan buruknya. Aku terlahir di negeri ini. Aku tumbuh dan menghirup udara di negeri ini, begitu juga sekitar dua ratus juta penduduk Indonesia yang lain. Ketika aku lahir, Indonesia masih dipimpin seorang “Bapak Pembangunan” yang katanya memberikan banyak perubahan dan kemajuan, tapi juga banyak meninggalkan hutang bagi Indonesia. Tapi aku tak peduli, aku mulai merasakan cinta pada negeri ini mulai tumbuh sejak hari pertama aku melihat dunia. Inilah negeriku, tempat hidungku menghirup udara pertamanya atau tempat tangisku pertama kali pecah. Dan aku mencintainya, dengan te...

Rindu

Ada yang tergerus pada yang dibilang hati, menelungkup sanubari, kelu. terbawa angin sendu, terhanyut hujan, biru. berpeluk pada satu ingatan, haru. jatuh dalam bayang kala itu. metamorfosa tak selamanya berlaku. beginikah rasanya jika temu, hanya berujung rindu? Tasikmalaya, 20-12-2015  Aisyah.