Skip to main content

sajak ah sudahlah?

adakah aku pujangga yang hilang,
yang menjatuh karena papan seluncur yang terlalu licin,
yang mengeluhkan langit-langit kamar yang terlalu pendek,
lalu tuliskan kata ah sudahlah
perlukan aksara menghampirkan darahnya pada nadiku
seperti kau mendobrak masuk rasaku
memaksa kemudian meninggalkan
aku terhenti pada rindu yang tak bertemu akhirnya
lalu tuliskan kata ah sudahlah
apa aku kah penyair sore itu,
yang berlari berteriak sajak
mencipta bebatuan menjadi rima lagu
dan rerumputan menjadi notasi intonasi
seperti dulu sat kau mengikuti langkahku
adakah kau masih seperti itu?
sepertikah aku masih akan seperti itu?
lalu tuliskan kata ah sudahlah

dingin, 14 agustus 2016
Aisyah.



Comments

Popular posts from this blog

Aku cinta padamu, Indonesia

Indonesia, sebuah negeri dengan segala keelokan dan pesona. Negeri di tenggara Asia   yang patut dipertanyakan: seberapa besar cinta rakyatnya kepadanya? Aku mungkin hanyalah seorang biasa, tapi aku akan mencoba menggambarkan seberapa besar cintaku kepada negeri ini melalui rangkaian kata sederhana ini. Atau mungkin, aku akan mencoba membuat kalian tahu bagaimana caraku mencintai negeri ini, mencintai baik dan buruknya. Aku terlahir di negeri ini. Aku tumbuh dan menghirup udara di negeri ini, begitu juga sekitar dua ratus juta penduduk Indonesia yang lain. Ketika aku lahir, Indonesia masih dipimpin seorang “Bapak Pembangunan” yang katanya memberikan banyak perubahan dan kemajuan, tapi juga banyak meninggalkan hutang bagi Indonesia. Tapi aku tak peduli, aku mulai merasakan cinta pada negeri ini mulai tumbuh sejak hari pertama aku melihat dunia. Inilah negeriku, tempat hidungku menghirup udara pertamanya atau tempat tangisku pertama kali pecah. Dan aku mencintainya, dengan te...