Skip to main content

Menikah-

Menikah sepertinya bukan hanya tentang mencintai
tidak sesederhana tentang hanya menyukai hal baik satu sama lain
atau mau menerima cela satu sama lain,
tapi tentang bagaimana berjuang membesarkan toleransi, 
mengecilkan ego, dan bertahan untuk bersama,
bukan cuma tentang satu orang dengan yang lain, 
tapi antar satu keluarga dengan yang keluarga lainnya.
dan itu mungkin bagian yang cukup sulit. 
tapi dari semua hal sulit yang akan terjadi ketika sudah menikah,
yang sulit lagi adalah
perjalanan menuju pernikahan itu sendiri.
dan yang tersulit dari yang sulit lagi itu adalah
menemukan dia yang akan menikah denganmu
yang sampai sekarang entah ada dimana
yang pada akhirnya hanya Tuhan yang mengetahui keberadaannya.


10 Juni 2018
-Aisyah,
belum bertemu siapa yang akan menikahinya
setidaknya hari ini belum
mungkin besok, akan. 
mungkin kapan?


Notes :

ini kayaknya nulis begini karena menuju lebaran, di usia-usia rawan pertanyaan 'kapan menikah?' dari keluarga ataupun netizen (yuh), dan karena abis lebaran udah banyak banget undangan kondangan dari temen temen terdekat.

buat yang sekiranya sedang dalam masa masa yang sama denganku, jalanin aja, gapapa. senyumin aja, nanti juga ada saatnya insya Allah yakin yes.

it's okay, you are not alone :)





Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Pilihan.

“Berbahagia dan berusaha bahagiakan orang lain.”

Motto hidup sederhana inilah yang membuat saya berani mendaftarkan diri ke IME 2012. Sederhana saja. Awalnya, saya hanya ingin mencari kebahagiaan saya sendiri dengan berorganisasi, mencari banyak pengalaman serta teman, dan membahagiakan orang lain (teman-teman sesama mahasiswa) dengan ikut IME sebagai organisasi yang mewadahi kegiatan mereka semua. Tapi mengapa saya memilih membahagiakan orang lain melalui bidang PSDM? 
Kata orang kebanyakan, PSDM adalah bidangnya orang-orang yang mau berpikir dan mau susah-susah untuk mengurusi orang lain. Dan saya juga tidak dapat memungkiri itu karena bidang inilah yang mau repot-repot mengurusi dan membimbing saya dan 117 teman saya saat masa bimbingan dulu. Ah kerajinan sekali, begitu pikir saya dulu.   
Tapi saat masa adaptasi dunia kampus dulu, saya dibuat semakin menyadari bahwa mahasiswa adalah segerombolan manusia yang punya banyak kelebihan di dalam dirinya yang bisa membawa peru…

Aku cinta padamu, Indonesia

Indonesia, sebuah negeri dengan segala keelokan dan pesona. Negeri di tenggara Asia yang patut dipertanyakan: seberapa besar cinta rakyatnya kepadanya? Aku mungkin hanyalah seorang biasa, tapi aku akan mencoba menggambarkan seberapa besar cintaku kepada negeri ini melalui rangkaian kata sederhana ini. Atau mungkin, aku akan mencoba membuat kalian tahu bagaimana caraku mencintai negeri ini, mencintai baik dan buruknya. Aku terlahir di negeri ini. Aku tumbuh dan menghirup udara di negeri ini, begitu juga sekitar dua ratus juta penduduk Indonesia yang lain. Ketika aku lahir, Indonesia masih dipimpin seorang “Bapak Pembangunan” yang katanya memberikan banyak perubahan dan kemajuan, tapi juga banyak meninggalkan hutang bagi Indonesia. Tapi aku tak peduli, aku mulai merasakan cinta pada negeri ini mulai tumbuh sejak hari pertama aku melihat dunia. Inilah negeriku, tempat hidungku menghirup udara pertamanya atau tempat tangisku pertama kali pecah. Dan aku mencintainya, dengan tertahan di ruma…

Skripsi, Sidang, Wisuda

Membicarakan hal hal mengenai pencapaian terakhir gue berkuliah  selalu membuat gue merinding.

Skripsi, sidang, dan wisuda, mungkin akan jadi tiga hal yang menentukan nasib seorang mahasiswa. Apakah ia berhasil melalui tahun tahun yang melelahkan sekaligus menyenangkan selama masa kuliah atau tidak . Tiga hal tadilah yang pada akhirnya menentukan, apakah seorang mahasiswa dalam hal akademis dinilai berhasil atau tidaknya.

Hari itu (lupa tanggalnya) adalah hari terakhir pengumpulan skripsi untuk mahasiswa yang ingin lulus semester ini. terlihat lalu lalang mahasiswa mayoritas angkatan 2008 mundar mandir di depan sekretariat departemen. Meja pengumpulan skripsi pun terlihat penuh dengan mahasiswa. Merinding dan sangat antusias untuk melihat, saya pun mendekat dan memperhatikan wajah mahasiswa-mahasiswa tersebut.

Wajah mereka bermacam macam, ada yang terlihat bahagia, lega, panik, tegang, dan ada yang air mukanya biasa biasa saja. Ada yang bahkan tertawa tawa lepas karena skripsi mereka …